Diffusivity Equation for Real Liquids with Gas in Solution
- Author
- E. Lanfranchi (S.A. Consultores C.S.C.)
- Publikasi
- Second Latin American Petroleum Engineering Conference (II LAPEC), Society of Petroleum Engineers, Caracas, Venezuela: 8–11 Maret 1992 (SPE 23740)
Latar Belakang
Pressure transient analysis klasik untuk aliran fluida liquid pada media berpori umumnya mereduksi diffusivity equation dengan mengasumsikan fluida bersifat ideal dan sedikit termampatkan (slightly compressible), sehingga tekanan dapat dijadikan variabel bebas secara langsung. Asumsi ini bekerja baik untuk minyak dengan gas terlarut (solution gas-oil ratio, Rs) yang rendah. Namun ketika sejumlah besar gas terlarut dalam minyak pada kondisi reservoir, penyimpangan dari perilaku ideal dan sedikit termampatkan dapat menjadi signifikan, dan literatur sebelumnya belum secara kuantitatif mengukur seberapa besar dampak kedua asumsi tersebut terhadap distribusi tekanan yang dihitung.
Tujuan
Mengembangkan pendekatan alternatif untuk diffusivity equation minyak yang tidak bergantung pada asumsi ideal fluid maupun sedikit termampatkan, serta mengukur dan membandingkan seberapa besar penyimpangan (deviasi) distribusi tekanan yang dihasilkan oleh kedua asumsi klasik tersebut dibandingkan dengan pendekatan barunya, pada sistem satu dimensi, untuk berbagai tingkat gas terlarut.
Metode
- Menurunkan persamaan densitas minyak langsung dari kurva PVT (formation volume factor Bo dan rasio gas-minyak terlarut Rs terhadap tekanan P), dengan mengasumsikan hubungan linear pada rentang tekanan di bawah suatu titik referensi P₁ (bukan dari asumsi gas ideal/compressibility konstan).
- Mensubstitusikan persamaan densitas ini ke continuity equation + Darcy’s Law untuk memperoleh diffusivity equation nonlinear baru dalam bentuk densitas (Eq. 8), yang secara matematis mereduksi menjadi persamaan aliran satu dimensi klasik untuk ideal fluid (Eq. 9) sebagai kasus khusus.
- Menyelesaikan kedua persamaan (non-ideal dan ideal) secara numerik menggunakan skema finite difference Crank–Nicolson dengan iterasi Gauss–Seidel, pada sistem linear satu dimensi (panjang 5.000 ft, porositas 0,20, permeabilitas 5 md), dengan syarat batas tekanan tetap di satu ujung dan tekanan turun tiba-tiba di ujung lainnya.
- Menyiapkan data PVT dari enam sampel crude oil yang dikelompokkan berdasarkan Rs: Grup A (Rs ≤ 1000 scf/STB, gas rendah), Grup B (1000 < Rs ≤ 2000, sedang), dan Grup C (Rs > 2000, tinggi), masing-masing dengan dua kasus data.
- Menghitung profil tekanan dari profil densitas untuk tiga skenario: (1) persamaan non-ideal baru, (2) asumsi ideal fluid klasik, dan (3) asumsi tambahan slightly compressible fluid; lalu mengukur beberapa metrik deviasi (deviasi titik absolut/persentase, deviasi per langkah waktu, dan deviasi ternormalisasi) antar ketiganya.
Hasil
- Asumsi ideal fluid menghasilkan deviasi tekanan yang lebih kecil dibanding jika ditambah pula asumsi sedikit termampatkan; pada waktu-waktu lanjut, deviasi kasus sedikit termampatkan dapat lebih dari dua kali lipat deviasi kasus ideal saja.
- Deviasi meningkat seiring bertambahnya Rs: pada Rs = 750 scf/STB, deviasi persentase maksimum ≤ 0,65% (ideal) dan ≤ 1,15% (sedikit termampatkan); pada Rs = 3000 scf/STB, deviasi naik menjadi ≤ 2,20% dan ≤ 3,20%.
- Deviasi ternormalisasi terhadap waktu selalu melewati satu titik puncak (maksimum), dan lokasi puncak ini bergeser ke waktu yang lebih lambat seiring meningkatnya jumlah gas terlarut: mencerminkan tertundanya transisi dari kondisi transien menuju kuasi-steady-state pada minyak dengan gas terlarut tinggi.
- Karena sebagian besar uji sumur dilakukan pada kondisi aliran transien, hasil ini mengindikasikan bahwa deviasi terbesar justru berpotensi muncul tepat pada rentang waktu pengukuran uji sumur: terutama pada reservoir ketat (tight) yang mengandung crude dengan kelarutan gas tinggi.
Kesimpulan
Untuk masalah aliran satu dimensi di bawah tekanan bubble point, asumsi ideal fluid saja sudah menimbulkan deviasi distribusi tekanan yang terbatas namun tidak dapat diabaikan, dan deviasi ini membesar seiring meningkatnya Rs. Menambahkan asumsi slightly compressible fluid memperbesar deviasi tersebut lebih jauh. Penulis menyimpulkan bahwa kedua asumsi penyederhanaan ini dapat berdampak signifikan terutama pada perhitungan kapasitas alir di waktu-waktu awal (early time), sehingga pendekatan non-ideal yang diusulkan lebih relevan digunakan untuk minyak dengan kadar gas terlarut tinggi.
Kekuatan dan Keterbatasan
Kekuatan:
- Pendekatan koreksinya sederhana secara konsep dan langsung diturunkan dari data PVT (Bo dan Rs vs P) yang memang rutin tersedia di lapangan, tanpa memerlukan model sifat fluida tambahan yang rumit.
- Memberikan kuantifikasi explicit (bukan sekadar kualitatif) dari besarnya error akibat dua asumsi penyederhanaan bertingkat, diuji pada rentang Rs yang cukup realistis (rendah, sedang, tinggi).
- Kesimpulannya relevan secara praktis untuk pressure transient analysis (menunjukkan bahwa periode early-time) yang justru paling sering digunakan untuk estimasi parameter reservoir: adalah periode yang paling terdampak oleh asumsi yang keliru.
Kelemahan:
- Studi terbatas pada aliran satu dimensi linear; belum mencakup geometri radial/2D/3D atau efek sumur (skin, wellbore storage) yang jauh lebih representatif untuk kondisi lapangan nyata.
- Hanya memodelkan aliran satu fase liquid di bawah tekanan bubble point melalui korelasi Rs(P) yang dilinearkan, bukan pemodelan aliran dua fase gas-minyak yang sesungguhnya ketika gas bebas benar-benar terbentuk.
- Deviasi hanya dibandingkan terhadap baseline idealisasi buatan penulis sendiri, bukan terhadap data tekanan lapangan/pengukuran aktual, sehingga validitas praktisnya belum diuji langsung di dunia nyata.
- Detail sensitivitas numerical scheme (ukuran grid, ukuran langkah waktu) tidak dibahas mendalam, sehingga sulit menilai seberapa robust hasil deviasi yang dilaporkan terhadap pilihan diskretisasi.